Saturday, October 23, 2004

Senyuman Mu

Senyuman Mu

Senyum mu panas
Membakar aku dan kesendirian ku
Membekas di tiap lekukan kuas
Pada setiap kuncup hari-hariku

Senyum mu panas
Membara di bibir kerinduan aku, akan santunnya laku
Mencairkan pucuk-pucuk hati nan keras dan tak pernah puas
Jadi cabikan kertas hingga takjubku

Senyum mu buas
Menuntun aku ke jantung telaga
Menyelami imaji ku hingga puas
Menggigilkan aku dan menuntun hingga ke tepian raga

Senyum mu api
Membalut haru yang telah beringsut dan kembali segar
Ya, dari segala indah juga luka yang telah ku nisani dan membiarkannya sepi
Candu rasa yang menguntai kembali sebuah hidup agar aku tegar

Senyum mu api
Teduhkan angkuh ini
Jadi bara yang berarti dan menghidupi
Dan tetaplah tersenyum meski bukan untuk aku ini.


Haryo
Jogjatjanda, 20 September 2003


Thanks for Rika, keep on smiling girl, coz your smile will refresh this panic world

Posted by Hello

Hati Yang Lapar


Terbiasa lapar
Dan tersakiti
Pedih jadi teman
Sepi jadi sahabat terbaik
Pelukan hujan dalam rapuh ku
Di titian jalan
Di sudut-sudut hati
Yang pernah dia singgahi

Aku
Kamu
Dia
Dan segelintir getir
Yang mengalir
Meracuni hati
Menyakiti

Meski riuh ku berada
Di atas aspal
Di gerbang pasar
Saat di persimpangan
Saat di wajah layar
Aku masih merasa sunyi

Aku
Kamu
Dia
Mengisi rongga hati
Yang nanar
Perlahan dan pasti

Jika rela milik mu untuknya
Bertaruh dengan sangsi
Kala pasrah tutur mu tuk dia
Bartabur dengan caci

Lalu aku
Menghibur mu
Dengan hangat ku
Di saat yang sama
Rapuh ku tergolek
Tanpa daya
Genapi memar yang tak akan kau tahu
Yang tak akan pernah kau mengerti
Karena aku pun
Masih terluka di sini.

-H-


Jogjasendukusendiri, 13 Agustus 2004

Posted by Hello

Sedu Anggrek ku di Samping Pusara

Aku prajurit
Yang takut mati
Saat musuh di depan
Meradang
Menyongsong peluru
Dan menghempaskannya
Di rawa
Di belantara hutan
Di tanah lapang
Dipuing-puing
Antara kemenangan
Dan penderitaan

Aku prajurit
Yang takut mati
Saat morfin tak lagi bekerja
Di atas lubang
Di tembus peluru
Antara darah ku
Dan perih mesiu

Dan aku prajurit
Yang lebih takut mati
Saat merah putih berkibar untuk ku
Dan terlipat rapi untuk Anggrek ku

Anggrek
Yang selalu setia untuk aku
Yang selalu menunggu aku
Berharap cemas aku pulang dan menimangnya
Bukan seperti sekarang
Hanya nama
Dan sebuah pusara
Yang bertuliskan
Nama ku.


Jogjaresah, 3 Oktober 2004
-Haryo-
Untuk pejuang tanpa nama, untuk mereka yang bersimbah darah dan air mata untuk Negara. Ataupun mereka yang sama sekali hancur jadi debu oleh mesiu, oleh perang, oleh lekangnya waktu, dan oleh kesombongan anak negeri yang lupa apa arti kemerdekaan bagi dirinya.

Posted by Hello

Sunday, October 17, 2004

Rapat Hati

aku hanya ingin kamu di sini
saat ini
detik ini
menyapa dengan senyuman
dan bersenandung dengan liar

agar hati ku bisa
merekah
menebar harum dan pesona
agar kau pun terlindungi
karena aku ingin kan
kuncup mu
syahdu dan menenangkan

-H-
Jogjarindu, 13 Agustus 2004

Wahai Pelajar dan Mahasiswa

Pelajar Mahasiswa
Dimana pun jua
Yang kos ngontrak ataupun ikut orang tua
Kadang hadapi masalah yang serupa
Terbelit pelik hidup dan biaya

Biaya pendidikan kian sulit terjangkau
Menu makan harikan kian tambah kacau
Jatah jajan kadang berkurang dari rantau
Tapi masih juga yang di atas asyik dengan …

Rebutan kursi
[cari posisi]
rebutan jabatan
[tumpuk kekayaan]

Jangan surutkan langkah mu kawan
Jaman sekarang memang jaman edan
Kita masih bisa berjuang bersama
Asal bulatkan niat kita

Kalau kamu nanti [jadi pemimpin]
Jangan lupa kami [yang ada di jalan]
Saat kamu nanti [jadi penguasa]
Jangan lupa masih ada [Yang Lebih Kuasa]

-H-
Jogjabara, 23 Juli 2004

Malam

Aku malu namun aku suka
Bau mulut mu, penuh aroma memikat
Aku tak pernah takut
Jika dosa ku lakukan karena itu

Aku kau sentuh ku suka dan kau juga
Bertaut bukan berpijak, tapi kokoh
Bergulir tak lebam berpeluh dengan semangat
Ya, aku juga suka

Gerah bukan ku kau benci
Panas tidak ku kau tolak
Bara tidak pun menyakitkan, sebab
Itu cinta

Aku kau bukan Bulan juga Matahari
Aku akar kau tanahnya
Aku menghujam
Kau memberi
Tidak, salah kau artikan pula
Tak perlu kau pahami
Tak usah kau baca
Bukan, bukan karena kau tak mengerti
Tidak juga kau buta

Tepat, tak ada yang memungkiri
Alam telah mengajarkan
Pada ku, mu, kau, kita bahkan dia

Hingga satu saat aku tak tahu bisa di sini…
Dan saat ini aku pernah mencobanya
Dan kau juga
Meski tak perlu manusia baru untuk membuktikannya.

-off-

-Haryo-
1 Juli 2002