Saturday, October 23, 2004

Hati Yang Lapar


Terbiasa lapar
Dan tersakiti
Pedih jadi teman
Sepi jadi sahabat terbaik
Pelukan hujan dalam rapuh ku
Di titian jalan
Di sudut-sudut hati
Yang pernah dia singgahi

Aku
Kamu
Dia
Dan segelintir getir
Yang mengalir
Meracuni hati
Menyakiti

Meski riuh ku berada
Di atas aspal
Di gerbang pasar
Saat di persimpangan
Saat di wajah layar
Aku masih merasa sunyi

Aku
Kamu
Dia
Mengisi rongga hati
Yang nanar
Perlahan dan pasti

Jika rela milik mu untuknya
Bertaruh dengan sangsi
Kala pasrah tutur mu tuk dia
Bartabur dengan caci

Lalu aku
Menghibur mu
Dengan hangat ku
Di saat yang sama
Rapuh ku tergolek
Tanpa daya
Genapi memar yang tak akan kau tahu
Yang tak akan pernah kau mengerti
Karena aku pun
Masih terluka di sini.

-H-


Jogjasendukusendiri, 13 Agustus 2004

Posted by Hello

1 comment:

Anonymous said...

selalu saja
terluka
sebenarnya memilih yang mana?
kalau tahu pahit mengapa masih menyapanya?
kalau tahu sakit mengapa masih mengelukannya?
kalau tahu pedih mengapa masih memujanya?
tidak bisakah mencintai saja dengan sederhana?
heran...
ingin menjadi tumbal atas apa?
kau sebut apa itu?
ketulusan bukan berarti menyakiti diri
kesungguhan bukan berarti selalu menerima
sendiri kau yang cipta
sepi hanya kau yang rasa
terpasung
kasihan...
kegalauan kembali ketika kau panggil
keresahan menerpa jika kau sapa
jadi memilih yang mana?
apakah cinta memang sesakit itu?
kenapa tidak memilih yang manis saja
bukankah dunia ini penuh fitrah ilahi
yang ada padamu adalah fitrahmu
ada tebaran kasih tuhan dalam hidup manusia
lalu mengapa memilih tersiksa?
pelajaran yang diambil dari yang ada hikmah
bukan keyakinan sia-sia karena sekedar latah dunia
tapi siapa berani memandang yang duka dengan cela?
begitupun aku..
hanya heran dan kasihan
:)