Sunday, October 17, 2004

Malam

Aku malu namun aku suka
Bau mulut mu, penuh aroma memikat
Aku tak pernah takut
Jika dosa ku lakukan karena itu

Aku kau sentuh ku suka dan kau juga
Bertaut bukan berpijak, tapi kokoh
Bergulir tak lebam berpeluh dengan semangat
Ya, aku juga suka

Gerah bukan ku kau benci
Panas tidak ku kau tolak
Bara tidak pun menyakitkan, sebab
Itu cinta

Aku kau bukan Bulan juga Matahari
Aku akar kau tanahnya
Aku menghujam
Kau memberi
Tidak, salah kau artikan pula
Tak perlu kau pahami
Tak usah kau baca
Bukan, bukan karena kau tak mengerti
Tidak juga kau buta

Tepat, tak ada yang memungkiri
Alam telah mengajarkan
Pada ku, mu, kau, kita bahkan dia

Hingga satu saat aku tak tahu bisa di sini…
Dan saat ini aku pernah mencobanya
Dan kau juga
Meski tak perlu manusia baru untuk membuktikannya.

-off-

-Haryo-
1 Juli 2002

1 comment:

Anonymous said...

yang dipuja tak memiliki rupa
masih saja manusia memandang suka
yang dirindu menjerat pilu
masih saja hati rela terpaku
padahal hendak dibawa kemana kala tak ada hela
tak ada suara
??
yang pijak akan menolak
yang disungging akan menyamping
terbuka tinggal meratap
dan kembali bukanlah mati
hanya memohon tapi apa hendak dikata
lebih manis cinta ketika terpana
diartikan tak ditemukan
dikecap tak terasa
diraba tak menjelma
jadi yang mana?
saat terdiam dalam jenuh
ketika terduduk dalam fikir
mencoba kembalipun percuma!!