Senyuman Mu
Senyum mu panas
Membakar aku dan kesendirian ku
Membekas di tiap lekukan kuas
Pada setiap kuncup hari-hariku
Senyum mu panas
Membara di bibir kerinduan aku, akan santunnya laku
Mencairkan pucuk-pucuk hati nan keras dan tak pernah puas
Jadi cabikan kertas hingga takjubku
Senyum mu buas
Menuntun aku ke jantung telaga
Menyelami imaji ku hingga puas
Menggigilkan aku dan menuntun hingga ke tepian raga
Senyum mu api
Membalut haru yang telah beringsut dan kembali segar
Ya, dari segala indah juga luka yang telah ku nisani dan membiarkannya sepi
Candu rasa yang menguntai kembali sebuah hidup agar aku tegar
Senyum mu api
Teduhkan angkuh ini
Jadi bara yang berarti dan menghidupi
Dan tetaplah tersenyum meski bukan untuk aku ini.
Haryo
Jogjatjanda, 20 September 2003
Thanks for Rika, keep on smiling girl, coz your smile will refresh this panic world
Posted by Hello
Saturday, October 23, 2004
Hati Yang Lapar

Terbiasa lapar
Dan tersakiti
Pedih jadi teman
Sepi jadi sahabat terbaik
Pelukan hujan dalam rapuh ku
Di titian jalan
Di sudut-sudut hati
Yang pernah dia singgahi
Aku
Kamu
Dia
Dan segelintir getir
Yang mengalir
Meracuni hati
Menyakiti
Meski riuh ku berada
Di atas aspal
Di gerbang pasar
Saat di persimpangan
Saat di wajah layar
Aku masih merasa sunyi
Aku
Kamu
Dia
Mengisi rongga hati
Yang nanar
Perlahan dan pasti
Jika rela milik mu untuknya
Bertaruh dengan sangsi
Kala pasrah tutur mu tuk dia
Bartabur dengan caci
Lalu aku
Menghibur mu
Dengan hangat ku
Di saat yang sama
Rapuh ku tergolek
Tanpa daya
Genapi memar yang tak akan kau tahu
Yang tak akan pernah kau mengerti
Karena aku pun
Masih terluka di sini.
-H-
Jogjasendukusendiri, 13 Agustus 2004
Posted by Hello

Sedu Anggrek ku di Samping Pusara
Aku prajurit
Yang takut mati
Saat musuh di depan
Meradang
Menyongsong peluru
Dan menghempaskannya
Di rawa
Di belantara hutan
Di tanah lapang
Dipuing-puing
Antara kemenangan
Dan penderitaan
Aku prajurit
Yang takut mati
Saat morfin tak lagi bekerja
Di atas lubang
Di tembus peluru
Antara darah ku
Dan perih mesiu
Dan aku prajurit
Yang lebih takut mati
Saat merah putih berkibar untuk ku
Dan terlipat rapi untuk Anggrek ku
Anggrek
Yang selalu setia untuk aku
Yang selalu menunggu aku
Berharap cemas aku pulang dan menimangnya
Bukan seperti sekarang
Hanya nama
Dan sebuah pusara
Yang bertuliskan
Nama ku.
Jogjaresah, 3 Oktober 2004
-Haryo-
Untuk pejuang tanpa nama, untuk mereka yang bersimbah darah dan air mata untuk Negara. Ataupun mereka yang sama sekali hancur jadi debu oleh mesiu, oleh perang, oleh lekangnya waktu, dan oleh kesombongan anak negeri yang lupa apa arti kemerdekaan bagi dirinya.
Posted by Hello
Subscribe to:
Posts (Atom)
