Jauh lurup mata memandang
Di batas waktu
Antara hari dan malam
Sepertinya matahari juga enggan menunda untuk tenggelam
Sampan berayun menerawang di batas mega
Jingga di mata singgah di hati
Lelaki ini haru lalu bisu
Syahdu senja membakar sebuah kalbu
Mercury perlahan berpendar
Mengganti sorot cahaya mentari yang membutakan
Masih, lelaki ini berdiri
Menghibur diri
Kemuning senja laun menggema
Di udara yang pernah jadi saksi
Manis asih pada manusia ini
Lalu terkubur hingga sisa nanti
Bertanya ia lalu pada udara malam
Akankah sakit ini terobati?
Dengan pusaran waktu
Lalu tenggelam
Udara itu semakin dingin
Agar lelaki itu tahu
Dia tak sendiri
Dan dingin itu menyadarkan sebuah kesadaran.
-Haryo-
4 Juni 2003
dedicated for my best friend;Lusi
thanks for your advice girl, I can not give in now coz the river must flow a way and bring the life for others.
